Profil Bondan Haryo Winarno
Nama Lengkap : Bondan Haryo Winarno
Alias : Pak Bondan | Bondan Winarno
Profesi : Pakar
Agama : Kristen
Tempat Lahir : Surabaya
Tanggal Lahir : Kamis, 20 April 1950
Zodiac : Aries
Hobby : Jurnalis | Kuliner
Warga Negara : Indonesia
Istri : Yvonne Winarno
Bondan Winarno, atau yang akrab disapa dengan panggilan Pak Bondan, namanya memang mulai dikenal sejak menjadi presenter kuliner yang mengajak pemirsa berkeliling negeri, bahkan luar negeri, untuk mencicipi sajian khas di tiap daerah. Tagline "pokok'e maknyus" membuat sosok ini makin terkenal.
Namun, sosok pria kelahiran Surabaya ini hendaknya tak dipandang hanya sebagai ahli kuliner. Pengalaman hidupnya jauh lebih beragam daripada sekedar icip-icip masakan nikmat dari satu restoran ke restoran lain. Meski tak bisa dipungkiri, bidang satu ini tak pernah bisa jauh dari hidupnya dan selalu melekat dalam dirinya, apapun profesi yang dijalaninya.
Hidup dalam keluarga besar dengan 8 orang anak, Bondan kecil sudah mengenal kuliner dari ibu yang berasal dari Madiun dan jago masak, seperti yang diakuinya dalam berbagai wawancara. Walaupun tak merasa dirinya anak kesayangan dalam keluarga, Bondan kecil cukup pantas dikagumi dengan kegemarannya meraup informasi. Hobi membaca disalurkannya dengan berlangganan berbagai majalah dan buku, termasuk sering berkunjung ke Perpustakaan Semarang, yang sayangnya harus dilakukannya secara sembunyi-sembunyi demi menghindari ejekan kawan-kawan di sekolah yang menganggapnya terlalu serius.
Selepas SMA, Bondan sempat berniat melanjutkan sekolah ke Fakultas Sastra. Sayangnya, keinginan ini ditentang oleh sang ibu yang menganggap profesi sastrawan tidak menjanjikan. Demi orang tua, Bondan pun mengalah dan bersekolah di Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Diponegoro.
Namun belum sempat selesai, Bondan sudah menjadi fotografer Puspen Hankam di Jakarta hingga tahun 1970. Setelah itu, ia berpindah-pindah kerja, tetapi tetap tidak lepas dari lingkup komunikasi massa. Sempat bertugas sebagai wartawan ke berbagai negeri, antara lain ke Kenya, Afrika. Sebagian pengalamannya dari negeri itu ia tuangkan menjadi cerpen berjudul Gazelle, yang kemudian memenangkan hadiah pertama lomba penulisan cerpen majalah Femina pada tahun 1984. Menulis sudah hampir merupakan kebiasaan bagi Bondan. Ia pun bisa menulis di mana saja, di pesawat udara, di mobil, atau bahkan di toilet.
Karir Bondan dimulai dengan menjadi seorang jurnalis, tepatnya Pimred Majalah Swa, sebuah majalah ekonomi, di tahun 1985. Tak sampai dua tahun, karirnya melesat ke arah berbeda, justru karena rengekan Gwen, anaknya, yang ingin bersekolah di Amerika. Gaji sebagai jurnalis dirasa tidak cukup, hingga Bondan berniat mencoba menjadi pengusaha.
Hal ini tak sulit dicapainya, terutama karena kesempatan yang diberikan pengusaha muda Sutrisno Bachir. Dengan ujian perjanjian bisnis di Jepang yang berhasil dilakoni Bondan dengan sangat baik, pria ini akhirnya berkesempatan untuk mengepalai cabang perusahaan seafood yang berlokasi di Amerika.
Setelah sempat berbisnis dan tinggal di Los Angeles dan Seatlle, pria yang bergelar Pangeran Raden Haryo Mangkudiningrat ini menyadari dunia ini tak sesuai untuknya. Bondan kembali ke Indonesia tanpa membawa Gwen, yang meneruskan sekolah di Amerika. Di Indonesia, Bondan kembali menekuni dunia yang dicintainya, jurnalisme.
Namanya tercatat sebagai jurnalis di berbagai media, seperti Kompas, Matra, Asian Wall Street Journal, Far Eastern Economic Review, Jakarta Post, Kompas, Bisnis Indonesia, Kontan, Swa, Suara Pembaruan, dan Detik.com. Selain itu, Bondan juga dikenal sebagai penulis cerpen dan wartawan investigatif. Karyanya, Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi membawa kesuksesan baginya, yang sayangnya tak berlangsung lama. Buku Bondan dilarang terbit setelah dirinya dipanggil oleh salah satu pejabat.
Kematian ayah dan kakak di usia muda membawa duka sekaligus niatan baru untuk Bondan. Dirinya pun memutuskan untuk menjalani masa pensiun sebagai pengusaha dan jurnalis, banting setir ke dunia kuliner. Dengan alasan keseimbangan hidup, Bondan resmi pensiun setelah kontraknya sebagai Pimred Suara Pembangunan habis ...
Share this :
« Prev Post
Next Post »